Sobat DGW, seiring pertumbuhan jumlah penduduk, kebutuhan pangan pun meningkat pesat. Sayangnya, lahan pertanian justru semakin berkurang akibat alih fungsi menjadi permukiman atau fasilitas lain. Lalu, bagaimana kita tetap bisa memenuhi kebutuhan pangan tanpa lahan luas? Jawabannya: vertical farming.
Apa itu Vertical Farming?
Vertical farming atau pertanian vertikal adalah metode budidaya tanaman dengan sistem bertingkat, biasanya menggunakan rak susun atau dinding vertikal. Sistem ini memungkinkan tanaman tumbuh optimal dalam ruang terbatas, bahkan di perkotaan, tanpa memerlukan lahan konvensional.
Beberapa fasilitas vertical farming modern juga dilengkapi dengan kontrol lingkungan buatan, mulai dari pengaturan cahaya, suhu, hingga sistem hidroponik untuk nutrisi tanaman. Dengan begitu, pertanian bisa dilakukan kapan saja tanpa bergantung sepenuhnya pada kondisi alam.
Instalasi Vertical Farming
Pada dasarnya, vertical farming menyerupai rumah kaca yang disusun ke atas. Material yang digunakan umumnya ETFE (Ethylene Tetrafluoroethylene) atau plastik transparan sebagai pengganti kaca. Material ini memungkinkan cahaya matahari menembus tanpa mengubah spektrum yang dibutuhkan tanaman untuk fotosintesis.
Di Indonesia, sinar matahari yang cukup selama lebih dari 6 jam per hari menjadi keuntungan tersendiri untuk vertical farming. Untuk area di dalam gedung yang kurang cahaya, lampu LED dapat digunakan sebagai pengganti sinar matahari. Sistem hidroponik pun mempermudah penyaluran air dan nutrisi secara efisien, lebih ringan dibandingkan media tanah.
Turbin atau kincir angin bisa dipasang untuk menyalakan pompa air dan lampu LED, menjadikan sistem vertical farming lebih mandiri energi.
Ragam Vertical Farming
Meskipun prinsipnya sama, vertical farming memiliki beberapa variasi yang bisa disesuaikan dengan kondisi:
- Vertical Farming di Bangunan
Budidaya tanaman dilakukan di rumah atau gedung fasilitas umum. Sistem ini memungkinkan tanaman mendapatkan cahaya alami sekaligus memanfaatkan ruang yang biasanya tidak produktif.
- Vertical Farming di Gedung Pencakar Langit
Konsep ini digagas oleh Dickson Despommier. Vertical farming di gedung tinggi dapat mengurangi jejak karbon, menghemat energi, dan mengembalikan lahan pertanian ke kondisi alami. Tanaman bertingkat di gedung pencakar langit juga bisa menjadi solusi urban farming untuk kota besar.
- Vertical Farming di Peti Kemas
Peti kemas bekas bisa diubah menjadi “mesin hijau berdaun” dengan sistem hidroponik vertikal, pencahayaan LED, dan kontrol iklim otomatis. Metode ini fleksibel dan cocok untuk memanfaatkan ruang terbatas di pelabuhan atau area industri.
- Vertical Farming Bawah Tanah
Beberapa lokasi bekas tambang atau bunker dapat diubah menjadi lahan vertikal. Suhu dan kelembaban di bawah tanah lebih stabil, membuat pertumbuhan tanaman lebih konsisten sepanjang tahun.
Kesimpulan
Sobat DGW, vertical farming menjadi solusi inovatif untuk menanam tanaman di ruang terbatas tanpa mengorbankan produktivitas. Dengan memanfaatkan rak bertingkat, kontrol cahaya, dan sistem hidroponik, metode ini memungkinkan pertanian modern yang efisien dan ramah lingkungan.
Tak hanya mengatasi keterbatasan lahan, vertical farming juga bisa menjadi peluang usaha baru, terutama di perkotaan. Masa depan pertanian urban kini semakin cerah dengan hadirnya teknologi vertikal ini.

