penyakit-tanaman-di-musim-hujan

Musim Hujan, Ancaman Perkembangan Hama Penyakit Tanaman yang Merugikan Petani

Musim hujan seperti saat ini membawa berkah bagi petani, tersedianya air dalam jumlah yang melimpah untuk mengairi sawah dan menyiram berbagai tanaman. Disisi lain, musim hujan justru menjadi ancaman bagi petani karena tanaman akan lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Air hujan yang bersifat asam dapat merusak lapisan lilin pada daun sehingga nutrisi tanaman hilang serta menyebabkan mudahnya tanaman terserang penyakit terutama jamur.

     Kelembaban udara yang tinggi dimusim hujan dapat menjadi penyebab outbreak atau meledaknya populasi beberapa jenis hama dan penyakit tanaman. Tanaman pangan dan hortikultura merupakan kelompok tanaman yang rentan terserang hama dan penyakit terutama saat musim hujan. Sebagai contoh, Hama Wereng Batang Coklat, salah satu hama utama tanaman padi populasinya dapat meningkat pada saat musim hujan. Apabila populasi hama tersebut tidak dapat dikendalikan maka dapat menyebabkan tanaman puso atau gagal panen yang akan merugikan petani. Oleh karena itu, petani perlu mengetahui beberapa jenis hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman di musim hujan agar dapat melakukan pengendalian secara

Beberapa hama dan penyakit tanaman di musim hujan diantaranya :

       Meledaknya populasi hama wereng batang cokelat pada tanaman padi terutama pada musim hujan menjadi kekhawatiran bagi petani karena dapat mengakibatkan fuso (gagal panen). Hama wereng batang cokelat dapat menyerang tanaman padi pada fase awal pertumbuhan hingga panen. Wereng ini menghisap cairan pada batang dan pelepah tanaman padi mengakibatkan batang padi menjadi kuning, berwarna coklat dan mengering seperti terbakar (hopperburn). Kelembaban udara yang tinggi, jarak tanam yang terlalu rapat dan pemupukan nitrogen yang berlebihan merupakan beberapa penyebab terjadinya ledakan populasi wereng batang cokelat. Pemupukan nitrogen yang berlebihan mengakibatkan tanaman terlalu subur dan sukulen sehingga batang mengandung banyak air dan mudah diserang wereng. Jarak tanam yang terlalu rapat menciptakan lingkungan lembab yang sangat kondusif bagi perkembangan wereng batang cokelat.

     Terdapat dua jenis wereng batang cokelat, yaitu wereng bersayap panjang (makroptera) dan wereng tidak bersayap (brakhiptera). Makroptera dapat terbang jauh dengan bantuan angin berpindah dari satu lahan ke lahan lain untuk menemukan padi sebagai sumber makanannya sedangkan brakhiptera menetap di suatu lahan yang dapat menyebabkan kerusakan tanaman padi.

     Apabila populasi hama wereng batang cokelat meningkat terutama saat musim hujan, maka perlu dilakukan tindakan pengendalian yang tepat. Petani dapat mengendalikan hama wereng batang cokelat dengan cara :

  • Menggunakan Varietas padi yang tahan

Varietas Unggul Baru atau VUB merupakan varietas padi yang memiliki ketahanan terhadap biotipe wereng batang cokelat. Beberapa VUB yang dikembangkan Badan Litbang Pertanian diantaranya Inpari 13, Inpari 31 dan Inpari 33.

  • Sistem Tanam Jajar Legowo

Sistem tanam jajar legowo dapat menjadi salah satu solusi pengendalian hama wereng batang cokelat karena jarak tanam yang tidak terlalu rapat. Sebaliknya, jarak tanam yang terlalu rapat dapat menciptakan lingkungan dengan kondisi lembab yang mendukung perkembangan hama wereng batang cokelat.

  • Pemupukan yang tepat dan berimbang

Pada saat musim hujan, sebaiknya menghindari penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan. Aplikasi pupuk nitrogen yang berlebihan menyebabkan tanaman terlalu subur dan sukulen (lebih berair) sehingga stilet atau alat mulut wereng batang cokelat mudah menembus dan menghisap batang padi.

  • Menggunakan Light Trap (Perangkap lampu)

Wereng batang cokelat terutama kelompok makroptera bersayap tertarik dengan cahaya lampu yang dipasang di light trap.

  • Melakukan konservasi musuh alami

Apabila populasi wereng batang cokelat masih di bawah ambang pengendalian, cara terbaik untuk mengendalikan hama tersebut dengan menggunakan cara yang lebih ramah lingkungan yaitu dengan memanfaatkan musuh alami. Beberapa musuh alami wereng batang cokelat seperti predator laba-laba, kumbang Coccinelid sp, kepik Cyrtorhinus sp dan cendawan/jamur patogen serangga antara lain Beauveria dan Metarhizium.

  • Pengendalian Kimiawi

Penggunaan insektisida dilakukan apabila populasi hama wereng batang cokelat melimpah dan melebihi ambang pengendalian

Antraknosa-cabai

     Penyakit antraknosa lebih dikenal petani sebagai penyakit patek. Saat ini, penyakit antraknosa merupakan penyakit utama beberapa jenis tanaman, terutama tanaman cabai. Antraknosa cabai disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici.  Cendawan ini dapat bertahan hidup di tanah dan bagian tanaman yang terserang.

     Kelembaban udara yang meningkat pada saat musim hujan memicu perkembangan penyakit antraknosa, menyerang hampir semua bagian tanaman cabai mulai dari batang, daun hingga buah. Kondisi ini tentu saja sangat merugikan bagi petani. Gejala khas penyakit patek yaitu adanya bercak melingkar berwarna cokelat, bercak meluas dan menyebabkan tanaman membusuk dan mati. Pembusukan buah cabai akibat penyakit antraknosa terjadi saat buah matang menyebabkan penurunan jumlah dan kualitas cabai sehingga dapat merugikan petani. Kehilangan hasil cabai diperkirakan berkisar antara 20-90 % terutama pada saat musim penghujan. Penyakit ini menyebar cepat melalui percikan air hujan, alat-alat pertanian, angin, penyemprotan pestisida, dll.

Untuk mengatasi kerugian akibat penyakit patek, petani dapat melakukan beberapa alternatif pengendalian yaitu :

  • Menanam bibit dan benih tanaman yang sehat
  • Mengantur jarak tanam

Menanam cabai dengan jarak tanam yang agak lebar dan ditanam secara zigzag bertujuan untuk mengurangi kelembaban udara.

  • Sanitasi Lingkungan

Membersihkan lahan, melakukan penyiangan gulma, memusnahkan tanaman cabai yang terserang penyakit antraknosa agar tidak menular ke tanaman sehat lainnya.

  • Aplikasi pupuk yang tepat dan berimbang.

Pemberian pupuk kalsium dapat menguatkan dinding sel tanaman sehingga susah ditembus oleh cendawan. Pemberian kalsium dapat dilakukan dengan cara pengocoran dolomit.

  • Menggunakan Mulsa Perak

Mulsa plastik perak dapat memantulkan sinar matahari pada bagian bawah daun tanaman cabai sehingga mengurangi kelembaban udara. Penggunaan mulsa juga dapat menghindari penyebaran spora Colletotrichum melalui percikan air hujan.

  • Pengendalian Hayati

Memanfaatkan agens hayati seperti bakteri Bacilllus polymyxa dan cendawan Trichoderma harzianum.

Sumber : Bbopt.co.id

Share Article

Facebook
WhatsApp
Twitter

Share Article

3 thoughts on “Musim Hujan, Ancaman Perkembangan Hama Penyakit Tanaman yang Merugikan Petani”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *