Penyakit Ganoderma merupakan salah satu masalah terbesar dalam budidaya kelapa sawit di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense, patogen yang menyerang bagian pangkal batang dan akar tanaman.
Sobat DGW Fertilizer perlu berhati-hati, sebab serangan Ganoderma dapat menurunkan produktivitas kebun sawit secara signifikan, bahkan menyebabkan kematian tanaman. Oleh karena itu, penting bagi Sobat dan pengelola kebun untuk memahami ciri-ciri, penyebab, dan cara pengendaliannya.
Apa Itu Penyakit Ganoderma?
Ganoderma dikenal sebagai penyakit busuk pangkal batang (Basal Stem Rot / BSR). Jamur ini berkembang di tanah dan menyerang jaringan kayu tanaman sawit. Ketika jamur masuk ke dalam pangkal batang, ia merusak sistem transportasi air dan nutrisi sehingga tanaman menjadi layu dan akhirnya mati. Penyakit ini termasuk sulit dikendalikan karena jamur dapat bertahan lama di dalam tanah.
Gejala Awal Serangan Ganoderma
Gejala awal sering kali sulit dikenali, sehingga banyak petani baru menyadari setelah kondisi tanaman cukup parah. Beberapa tanda serangannya meliputi:
- Daun menguning dan mengering perlahan mulai dari pelepah tua.
- Pertumbuhan terhambat, daun muda tampak kecil dan pucat.
- Pelepah menggantung atau dikenal dengan gejala skirting.
- Luka busuk pada pangkal batang, sering kali disertai bau khas akibat pembusukan.
- Munculnya badan buah jamur berbentuk kipas (basidiokarp) berwarna cokelat kemerahan di pangkal batang atau permukaan tanah dekat tanaman.
Apabila basidiokarp sudah terlihat, biasanya tingkat kerusakan tanaman sudah mencapai fase berat dan sulit disembuhkan.
Penyebab dan Cara Penyebaran
Jamur Ganoderma boninense menyebar melalui tanah, akar yang terinfeksi, serta sisa-sisa batang sawit yang membusuk. Lahan bekas sawit tua yang ditebang sering menjadi sumber utama penyebaran jamur. Spora jamur dapat menyebar melalui angin atau kontak akar antar tanaman. Kebun dengan drainase buruk dan kondisi tanah lembap juga lebih rentan terinfeksi penyakit ini.
Dampak Terhadap Produktivitas
Penyakit Ganoderma menyebabkan penurunan produksi TBS (Tandan Buah Segar) hingga 50% pada tanaman yang sudah terinfeksi sedang. Pada stadium berat, tanaman biasanya mati dalam beberapa bulan. Bila tidak dikendalikan, penyakit ini dapat menyebar cepat dan menyebabkan kerugian besar bagi perkebunan.
Upaya Pengendalian Ganoderma
Mengendalikan Ganoderma memerlukan pendekatan terpadu (integrated management). Beberapa langkah yang terbukti efektif antara lain:
- Sanitasi lahan
Membersihkan tunggul dan akar sawit lama dapat mengurangi sumber inokulum jamur. - Metode replanting yang tepat
Menggunakan teknik zero burning dan bio-remediation dengan jamur antagonis seperti Trichoderma spp. untuk menekan populasi Ganoderma. - Pemantauan dini
Melakukan inspeksi berkala pada tanaman, terutama pada kebun tua, untuk mendeteksi gejala awal. - Penggunaan varietas toleran
Beberapa produsen benih telah mengembangkan varietas sawit yang lebih tahan terhadap Ganoderma. - Perbaikan drainase
Tanah yang terlalu lembap meningkatkan risiko infeksi, sehingga sistem drainase perlu dibuat optimal. - Penggunaan agen hayati
Aplikasi jamur antagonis, bakteri endofit, atau pupuk hayati terbukti membantu menekan perkembangan Ganoderma.
Kesimpulan
Ganoderma merupakan penyakit serius yang dapat mengancam produktivitas kebun sawit. Dengan memahami gejala, penyebab, serta metode pengendaliannya, Sobat dapat melakukan tindakan pencegahan sejak dini. Upaya pengelolaan yang tepat sangat penting untuk menjaga keberlanjutan produksi sawit di Indonesia.
Daftar Pustaka
- Flood, J. (2006). Ganoderma Diseases of Perennial Crops. CABI Publishing.
- Idris, A. S., et al. (2011). Management of Ganoderma in Oil Palm Plantations. MPOB Malaysia.
- Susanto, A. (2019). Strategi Pengendalian Ganoderma pada Tanaman Kelapa Sawit. Jurnal Perlindungan Tanaman.
- Purba, R. Y. (2020). Penyakit Busuk Pangkal Batang dan Dampaknya pada Produktivitas Sawit. Balai Penelitian Perkebunan.

